Masa Muda Yusuf Bilyarta yang Menyenangkan 

Y.B. Mangunwijaya dilahirkan di kota Ambarawa, Jawa Tengah, pada tanggal 6 Mei 1929, sebagai anak sulung dari dua belas bersaudaranya. Keluarganya penganut Katolik yang taat. Almarhum ayahnya, Yulianus Sumadi Mangunwijaya, dulunya seorang guru dan penilik sekolah. Ibunya, Serafin Kumdaniyah sampai dengan usianya senjanya bahkan masih masih aktif mengurus hotel kecil miliknya di Magelang.

Namun, yang paling meninggalkan kesan bagi Mangunwijaya adalah masa sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, yaitu di di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan, Magelang (1936 — 1943). Sekolah yang dianggapnya bagai firdaus itu, menurut ceritanya, tidak hanya memberikan pelajaran intelektual melulu kepada murid. Murid juga mendapat pelajaran lain seperti: pidato, mengarang, menyanyi, main drama, dsb. Murid-murid dididik untuk mempunyai cakrawala pandang yang luas. Semua pengalaman belajar itu sangat mengesan bagi Mangunwijaya. Ia merasa sungguh mengalami apa yang dinamakan pengajaran, pendidikan dan kebudayaan dan peran Dinas Pendidikan saat itu sangat dirasakan. Sayangnya masa yang menyenangkan itu dirusak dengan datangnya tentara Jepang. Sebagai anak kecil, Mangunwijaya merasa shock juga menghadapi situasi yang tiba-tiba berubah drastis seperti itu. Kelaparan di mana-mana dan sekolah-sekolah ditutup. 

Ketika akhirnya Mangunwijaya berhasil menamatkan sekolah dasarnya di Magelang, ia lalu pindah ke Semarang dan di sana masuk ke sekolah teknik. Kemudian ia pindah lagi ke Yogyakarta. Di sini ia bersekolah di dua tempat. Pagi ia meneruskan sekolah tekniknya, di Sekolah Teknik Mataram – sekarang dikenal dengan STM Jetis – (1943 — 1947), sore ia bersekolah di Sekolah Menengah AMKRI. Saat menempuh pendidikan di STM Jetis ini Mangunwijaya sempat terlibat dalam aksi pengambilalihan mobil-mobil tentara Jepang. Setelah peristiwa itu, STM Jetis dibubarkan dan dialihfungsikan menjadi markas perjuangan tentara. 

Seiring dengan perubahan yang terjadi dalam situasi dan kondisi Indonesia saat itu, Mangunwijaya kemudian ikut menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III, Batalyon X, Kompi Zeni, dan bertugas di asrama militer Benteng Vredeburg, asrama militer Kotabaru. Ia bahkan sempat ikut terlibat dalam  pertempuran Ambarawa, Magelang, dan Mranggen. Tahun 1946 agresi militer masih berkecamuk, Mangunwijaya masih melanjutkan pendidikan di STM Jetis. Karena statusnya sebagai prajurit Tentara Pelajar, maka ia ditugaskan untuk menjadi sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk memeriksa pasukan. Setelah lulus dari STM Jetis pada tahun 1947, saat itu masih berkecamuk Agresi Militer Belanda II, Mangunwijaya tercatat sebagai Tentara Pelajar Brigade XVII dan dipercaya sebagai komandan TP Kompi Kedu.  

 

Kalimat Sakti Komandan yang Mengubah Jalan Hidup

Tak lama kemudian, pecahlah perang revolusi kemerdekaan. Sekolah-sekolah pun ditutup. Pelajar-pelajar sekolah menengah waktu itu dimobilisasi dan dimasukkan ke Benteng Vredeburg. Itulah adalah tangsinya yang pertama. Mangunwijaya ikut perang selama kurang lebih satu tahun sampai sekolah dibuka kembali. Saat naik ke kelas dua, perang pecah lagi, sekolahnya kembali berhenti. Setelah itu Mangunwijaya pindah ke Magelang dan masuk sekolah negeri pertama yang baru dibuka. Tapi belum sempat ikut ujian akhir, perang terjadi lagi. Selesai perang ia pergi ke Malang dan menamatkan sekolah menengahnya di SMA Albertus (1948 — 1951).

Selama masa revolusi itu Mangunwijaya masuk Batalyon X sebagai anggota pasukan Zeni. Komandannya waktu itu Mayor Soeharto (kini Presiden RI). Mangunwijaya sempat ikut dalam pertempuran di Magelang dan Ambarawa. Selesai perang Mangunwijaya yang sejak kecil bercita-cita ingin belajar arsitek, berniat mendaftar ke ITB, yang waktu itu baru saja membuka jurusan arsitektur. 

Beberapa saat setelah kemerdekaan, suasana gembira menyelimuti seluruh anggota TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar). Sebagai tentara yang baru pulang dari bergerilya, mereka disanjung habis-habisan oleh rakyat dan diperlakukan bak pahlawan dan bunga bangsa. Dalam sebuah kegiatan syukuran atas kemenangan itu, bertempat di Kota Malang komandan TRIP, Mayor Isman dalam pidatonya mengatakan agar rakyat tidak menyanjung terlalu tinggi para tentara itu. Mayor Isman menegaskan bahwa  para tentara itu bukan pahlawan. Mereka bahkan sudah melakukan banyak tindakan membuat tangan mereka berlumuran darah, membunuh, merampok, membakar rumah. Meskipun itu semua memang dilakukan demi kemerdekaan Indonesia. Sebagai tentara, mereka bisa bersembunyi setelah melakukan penyerangan. Tetapi rakyat tidak bisa, mereka bahkan rela mengorbankan harta bendanya bahkan nyawanya untuk mendukung perjuangan para tentara itu. Mayor Isman bahkan justru meminta bimbingan dari seluruh rakyat agar mereka kembali menjadi orang biasa di tengah masyarakat, untuk membangun Indonesia yang sudah merdeka ini.

Pidato Mayor Isman itu selalu terngiang-ngiang di telinga Mangunwijaya. Dari permenungan yang mendalam atas isi pidato itulah yang kemudian memberikan pengaruh yang sangat besar saat Mangunwijaya mengambil keputusan untuk masa depannya. Ia memutuskan menjadi seorang pastor Katolik agar bisa membalas budi kepada rakyat yang telah membantunya dalam bergerilya. Padahal, sebelumnya ia sudah bercita-cita ingin menjadi arsitek. Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, kemudian memang menjadi pastor dan akrab dengan panggilan Romo Mangun. Tapi kemudian lebih dikenal sebagai penulis, budayawan, kolumnis dan juga arsitek.

 

Membayar Hutang kepada Rakyat

Keinginan yang kuat untuk bisa memiliki hubungan yang dekat dengan rakyat dan bisa membayar hutang atas semua pengorbanan rakyat semasa perang kemerdekaan, mendorong Mangun untuk memutuskan hidup sebagai seorang biarawan, sebagai pastor. Maka, setelah lulus dari Lulus SMA-B Santo Albertus, Malang pada tahun 1951, Mangun memulai pendidikan di Seminari Menengah di Jl. Code, Kotabaru, Yogyakarta. Baru setahun mengikuti pendidikan di Seminari Kotabaru ini, Mangun kemudian berpindah tempat pendidikan di Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang. Pendidikan di Seminari Menengah ini dijalani sampai tahun 1953, kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi, di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kota Baru. Waktu itu salah satu pengajarnya adalah Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J. 

Pendidikan calon imam di Seminari Tinggi ini berlangsung selama 6 tahun, dan akhirnya pada tanggal 8 September 1958, Mangun ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J. Rupanya perjalanan studi Rm. Y.B. Mangunwijaya, Pr. masih panjang. Setelah ditahbiskan, Rm. Mangun ditugaskan untuk melanjutkan studi ke Fakultas Teknik Arsitektur, ITB, Bandung. Pendidikan di ITB ini hanya dijalani selama setahun, karena tahun berikutnya – 1959 – beliau melanjutkan studi arsitekturnya ke Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman. Saat menjalani studi inilah Rm. Mangun mengetahui bahwa Mgr. Albertus Soegijapranata menjalani perawatan di Biara Suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi Harleen Belanda. Maka selanjutnya Rm. Mangun sering ikut mendampingi Mgr. Albertus Soegijapranata selama dalam perawatan tersebut. Bahkan ikut mendampingi saat Mgr. Albertus Soegijapranata wafat pada tahun 1963.

 

Kembali ke Indonesia

Pendidikan arsitektur di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman diselesaikan oleh Rm. Mangun pada tahun 1966. Segera setelah menyelesaikan studinya tersebut Rm. Mangun kembali ke Indonesia dan ditugaskan sebagai Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Salam, Magelang. Pada saat inilah Rm. Mangun terlibat dalam proses renovasi dan pembangunan Lokasi ziarah Gua Maria Sendangsono. Di sekitar tahun 1970-an Rm. Mangun berkesempatan menjadi dosen luar biasa jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UGM. Pada masa itu beliau juga mulai banyak beraktivitas menulis artikel di koran Indonesia Raya dan Kompas dengan tema agama, kebudayaan, dan teknologi, dan sudah memulai juga menulis beberapa cerpen dan novel. Bahkan pada tahun 1975 sempat memenangkan sayembara Kincir Emas Radio Nederland Program Bahasa Indonesia melalui novel yang ditulisnya. 

Di sela-sela ketugasannya sebagai Pastor Paroki Rm. Mangun sempat mengikuti kuliah singkat tentang masalah-masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Aspen Institute for Humanistic Studies, Aspen, Colorado, AS pada tahun 1978. Pada tahun ini pula dirilis buku pertamanya yang berjudul Puntung-puntung Rara Mendut. Buku ini merupakan kumpulan tulisan tentang kebudayaan, perikemanusiaan dan kemasyarakatan yang diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta.

 

Keprihatinan yang berbuah aksi nyata

Tahun 1980, berita tentang penggusuran warga bantaran Kali Code Yogyakarta mulai memanas. Rm. Mangun memberikan perhatian yang sangat besar pada peristiwa ini. Beliau bahkan mendapatkan izin khusus dari Mgr. Kardinal Darmoyuwono untuk mendampingi warga tepi Kali Code yang terancam digusur. Sebagai bentuk penolakannya atas rencana penggusuran tersebut Rm. Mangun sampai melakukan aksi mogok makan. Pada masa-masa itu, secara konkrit Romo Mangun melakukan pendampingan dan pelayanan kepada kaum terbawah yang tinggal di Bantaran Kali Code tersebut. 

Bentuk pendampingannya berupa pendidikan untuk anak-anak terlantar, penyediaan perpustakaan, pembangunan perumahan semi permanen untuk masyarakat yang layak huni, termasuk juga pembangunan masjid Kalimosodo di Code. Semuanya itu menunjukkan betapa Rm. Mangun memberikan perhatian kepada masyarakat Code tanpa memandang latar belakang mereka. Semuanya dilayani dan didampingi tanpa pamrih dan maksud-maksud tertentu kecuali untuk mengupayakan harkat hidup yang layak bagi mereka. Kesan ini semua dikisahkan oleh beberapa warga masyarakat Code yang saat itu ikut berdinamika bersama Rm. Mangun. Aktivitasnya mendampingi warga Code bahkan membuat Rm. Mangun merelakan untuk mengundurkan diri dari statusnya sebagai Dosen Luar Biasa di UGM.

Di sela-sela waktu pendampingan warga Code, Rm. Mangun masih berkesempatan untuk menerbitkan buku dan novel antara tahun 1980-1981. Buku yang diterbitkan adalah Fisika Bangunan, sementara novelnya berjudul Romo Rahadi dan Burung-burung Manyar. Dalam novel Romo Rahadi, Rm. Mangun menggunakan nama samaran Wastu Wijaya. Buku Fisika Bangunan dan novel Burung-burung Manyar diterbitkan oleh PT Gramedia Jakarta, sementara buku Fisika Bangunan diterbitkan oleh Penerbit Kanisius Yogyakarta. Pada kurun waktu tersebut, Rm. Mangun juga sempat ikut serta sebagai contributor dalam buku Dialog: Indonesia Kini dan Esok II yang diterbitkan oleh LEPPENAS. 

Buah dari keprihatinannya atas nasib orang kecil yang selalu menderita ini menghasilkan banyak karya dan aksi nyata dalam perjalanan kehidupan Romo Mangun selanjutnya. Y.B. Mangunwijaya kemudian dikenal sebagai seorang pejuang kemanusiaan. Berbagai karya sosial secara luas menjadi medan perjuangannya. Sebagian besar perjuangannya terarah pada upaya membela dan melayani orang-orang miskin dan terpinggirkan melalui pilihan hidup sebagai Tentara Pelajar, pastor Katolik, arsitek, budayawan, dan pejuang kemanusiaan. Selain melalui karya sastra dan arsitektur, ia hidup dan berjuang bersama orang-orang miskin di lembah Kali Code, pedesaan daerah proyek bendungan Kedung Ombo, Sragen, dan masyarakat pesisir Pantai Grigak Wonosari. Berdasarkan semua pengalaman dan pendampingannya tersebut, Rm. Mangun sampai pada kesimpulan dari bahwa pihak yang paling menderita dan perlu mendapatkan perhatian dalam situasi pemerintahan saat itu adalah perempuan dan terutama anak-anak yang lahir dari situasi keluarga mereka yang miskin dan menderita

Apa yang dilakukan Romo Mangun ini tentu saja bukan tanpa resiko. Tantangannya bisa berasal dari pihak mana saja. Namun beruntungnya, tidak sedikit pula yang mendukung bahkan ikut dalam berbagai aksi sosial yang dilakukan oleh Romo Mangun. Bahkan dukungan juga berasal dari kalangan birokrat dan para mahasiswa. Aksi nyata yang dilakukan Romo Mangun tentu saja belum dapat mengatasi segala persoalan keadilan sosial secara menyeluruh. Namun setidaknya mampu menginspirasi banyak pihak untuk dapat memberikan perhatian kepada mereka masyarakat kecil yang miskin, terpinggirkan dan tidak memiliki akses dalam berbagai aspek kehidupan mereka. 

Salah satu buah dari aksi sosial di bidang pendidikan adalah dengan berdirinya Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Gagasan ini berawal dari keprihatinannya terhadap nasib anak-anak di bantaran kali Code yang sebagian besar tidak bersekolah karena memang bermasalah dari sisi keabsahannya sebagai warga negara. Orangtua mereka tidak tercatat sebagai warga negara. Mereka tidak memiliki identitas resmi sebagai warga negara. Untuk membantu dan mendampingi anak-anak inilah kemudian Rm. Mangun mengajukan permohonan untuk mengelola sebuah sekolah milik Yayasan Kanisius di dusun Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman. Di sekolah inilah anak-anak tersebut diberikan pendampingan pendidikan yang layak. Kelak di kemudian hari sekolah ini berkembang dan menjadi Sekolah Eksperimental Mangunan. 

. 

Gagasan pendidikan Rm. YB.Mangunwijaya

Pengalaman hidup bersama dan mendampingi orang-orang miskin menginspirasi Y.B. Mangunwijaya untuk menemukan bekal paling pokok agar orang-orang miskin mampu keluar dari lingkaran hidup miskin. Ia mengerucutkan perjuangannya pada upaya mengembangkan sistem pendidikan dasar yang berpihak pada anak-anak miskin. Ia mulai merumuskan gagasan untuk mendirikan Yayasan Pendidikan yang menaungi karya sosial kemanusiaan, terutama pengembangan pendidikan formal dan non-formal bagi anak-anak miskin. Memang sudah ada banyak relawan yang tergerak untuk mendampingi anak-anak miskin di lembah Kali Code dan berbagai tempat. Akan tetapi, pendidikan formal sangat diperlukan karena pendidikan formal mendampingi anak agar mengembangkan budaya belajar secara teratur dan integral sehingga anak-anak memiliki bekal untuk melanjutkan proses belajar seumur hidup. Pendidikan formal menjamin kontinuitas pendampingan belajar anak yang mensinergikan peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam proses pendidikan anak.

Pada waktu tinggal di Pantai Grigak, Gunung Kidul, pada tahun 1987, selain menuliskan novel Burung-burung Rantau, Rama Y.B. Mangunwijaya merumuskan draf Anggaran Dasar Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (YDED). Untuk memperkaya wawasan dan gagasan tentang pengembangan pendidikan dasar, Y.B. Mangunwijaya mengadakan studi banding ke sekolah-sekolah di China, Belanda, Inggris, dan beberapa negara Eropa. Ia meyakini bahwa bekal yang paling dibutuhkan anak di tingkat pendidikan dasar adalah pendidikan karakter yang ia namai dengan religiusitas atau perkembangan penghayatan nilai-nilai dasar kemanusiaan. Pendidikan karakter sangat penting untuk dikembangkan adalah kesetiakawanan atau kepedulian sosial dalam hidup bersama, kejujuran, kemampuan bekerja sama, dan kemandirian. Anak-anak yang mengalami perkembangan karakter tersebut secara optimal dalam proses pendidikan dasar akan mampu melanjutkan pendidikannya dalam pendidikan formal atau non-formal secara eksploratif (pencari), kreatif (pencipta), dan integral (utuh). 

Dalam proses pendidikan, peran guru adalah sangat penting. Bagi Y.B. Mangunwijaya, guru bagaikan bidang yang membantu lahirnya perkembangan karakter, pengetahuan, dan keterampilan yang sudah dibawa oleh masing-masing anak. Tugas utama guru adalah mengenali potensi atau bakat anak, mengarahkan mendampingi proses perkembangan bakat tersebut, dan menemukan metode-metode yang tepat dan merekomendasi untuk perkembangan selanjutnya agar anak-anak mampu mengeksplorasi bakat-bakatnya secara kreatif demi perkembangan yang integral. 

Yayasan yang didirikan Rm. Mangun ini mulanya bernama Gerakan Pembaharuan Pendidikan Dasar. Namun, penggunaan kata “gerakan” pada saat itu sangatlah rawan dan sangat mungkin dicurigai melawan pemerintah.  Maka kata “Gerakan” kemudian  diubah menjadi “Dinamika”. Selanjutnya atas pengertian dan dukungan LPPS dari MAWI yang diketuai oleh Rm Hardaputranta SJ, Laboratorium Pendidikan DED sebagai embrio dari Yayasan Dinamika Edukasi Dasar didirikan dan berlokasi di Gg. Kuwera 14, Mrican, Caturtunggal, Depok Sleman. Awalnya Lembaga ini mengambil fungsi sebagai extension service dari LPPS dan memiliki afiliasi moral dan operasional dengan LPPS. Namun dalam operasionalnya tetap berdikari penuh dalam hal karya dan modal finansialnya. Laboratorium DED ini mulai beroperasi pada pertengahan tahun 1987. Seluruh gagasan dasar ini Lembaga ini selanjutnya tertuang dalam Anggaran Dasar Yayasan Dinamika Edukasi Dasar yang mendapatkan pengesahan akta notaris pada tahun 1989.

Ditulis oleh:
August Windu Aji – Bid. Diseminasi & Kerjasama Yayasan DED

Disarikan dari berbagai sumber