Yayasan Dinamika Edukasi Dasar:
Melanjutkan Perjuangan Pendidikan Pemerdekaan
“Kita harus membayar hutang kepada rakyat yang telah banyak berkorban membantu perjuangan kita mempertahankan kemerdekaan”. Pidato Mayor Isman ini selalu terngiang-ngiang di telinga YB. Mangunwijaya muda. Dari permenungan kata-kata komandannya inilah akhirnya Mangunwijaya memutuskan menjadi seorang pastor Katolik. Dengan menjadi Pastor niat untuk membalas budi kepada rakyat bisa diwujudkan. Meski bercita-cita menjadi arsitek. YB. Mangunwijaya, kemudian menjadi pastor dan akrab dengan panggilan Romo Mangun. Dalam perjalannya YB. mangunwijaya tetap dikenal sebagai arsitek, juga penulis, budayawan, dan kolumnis
YB. Mangunwijaya ditahbiskan sebagai imam oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Albertus Soegijapranata, S.J pada tanggal 8 September 1958. Setelah ditahbiskan, Rm. Mangun ditugaskan untuk melanjutkan studi ke Jurusan Teknik Arsitektur, ITB, Bandung dan kemudian melanjutkan studi arsitekturnya ke Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule, Aachen, Jerman. Sepulang dari Jerman, Rm. Mangun tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang pastor, namun sambil menjaga kedekatan dengan rakyat kecil, sambil melanjutkan talentanya sebagai penulis. Di tengah-tengah kesibukannya, Rm. Mangun mulai terlibat dalam proses renovasi tempat ziarah Gua maria Sendangsono.
Kepeduliannya pada orang kecil untuk memenuhi keinginannya mabayar hutang kepada rakyat benar-benar diwujudkannya. Pendampingan orang kecil dan terpinggirkan antara lain dilakukan saat mendampingi warga bantaran Kali Code Yogyakarta tahun 1980, tahun 1985 mendampingi warga Kedung Ombo, Boyolali dan tahun 1987 mendampingi warga pantai Grigak, Gunungkidul. Waktu tinggal di Pantai Grigak, Gunung Kidul, pada tahun 1987, selain menuliskan novel Burung-burung Rantau, Rama Y.B. Mangunwijaya merumuskan draf Anggaran Dasar Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (YDED). Yayasan ini berfokus kepada penyediaan pendidikan bagi anak-anak yang kesulitan mengaksesnya karena situasi dan kondisi orangtuanya. Juga mendampingi masyarakat di beberapa daerah yang terpinggirkan agar bisa hidup mandiri dengan mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Bagi Rm. Mangun pendidikan anak merupakan kunci untuk mengubah kondisi keluarga yang miskin dan terpinggirkan. Untuk itulah kemudian Rm. Mangun mengelola sebuah SD di dusun Mangunan, Berbah, Sleman yang akan ditutup..
Proses pendirian Yayasan ini diawali dengan membuat Laboratorium Pendidikan di pertengahan tahun 1987. Dari Laboratorium inilah kemudian berkembang dan menjadi Yayasan Dinamika Edukasi Dasar. Yayasan ini tepatnya berdiri pada tanggal 4 Agustus 1989 dengan tempat kedudukan di Gg. Kuwera 14, Gejayan, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Yayasan Dinamika Edukasi Dasar dengan Laboratoriumnya didirikan atas keprihatinan yang mendalam tentang kondisi pendidikan secara umum di Indonesia, khususnya pada tingkat pendidikan dasar. Rm. Mangun merasa sudah berpuluh-puluh tahun negeri ini tidak punya lagi sekolah dalam arti sejati. Yang ada hanyalah tempat penataran yang diterapkan kepada anak dengan porsi penghafalan bahan-bahan berkuantitas banyak yang sebagian besar tidak relevan menghadapi hidup real anak. Bahkan sering sama sekali justru bertentangan dengan prinsip-prinsip psikologi perkembangan anak. Yayasan DED memetik salah satu kesimpulan yang penting, yakni, bahwa yang paling menderita di bawah struktur-struktur pemiskinan sebenarnya adalah anak-anak, tanpa “sepengetahuan dan seizin” mereka, mereka lahir terlempar oleh “nasib” ke dalam situasi yang sama sekali melawan kecenderungan alami pengembangan diri mereka sebagai anak yang benar-benar anak.
Faktanya Yayasan DED tidak mempunyai kekuatan dan waktu cukup untuk mendampingi kategori anak-anak yang sungguh memerlukan dedikasi waktu penuh 100{9fe5d4ff58f66f3944c0aec78087aa9c3a7c2d99354307fdb21655633687fb65}. Yayasan DED akhirnya memilih kategori anak-anak miskin yang pendampingannya sesuai dengan kemampuan waktu dan energi. Yang didampingi bukan anak-anak dari keluarga-keluarga yang paling miskin dan menderita, namun masih masuk kategori anak-anak yang tidak mampu. Anak-anak yang masih tinggal bersama orang tua atau wali namun dalam kondisi yang amat kurang, dan yang masih “dipaksa” untuk orang tua membantu mencari nafkah.
Dalam buku Sekolah Merdeka (edisi revisi) Rm. Mangun menyebutkan kondisi pendidikan dasar di Indonesia sangat menyedihkan. Pada hakekatnya sudah terlalu lama kita tidak punya guru lagi dalam arti yang sejati. Tentu ada pengecualian, namun mereka pun menderita karena mereka seolah-olah tidak “diperbolehkan” oleh sistem menjadi guru dan pendidik yang baik. Yang ada adalah sosok penatar, instruktor, komandan, birokrat, dan pawang. Yang disebut murid atau siswa pun, apalagi anak, seperti disebutkan di atas, sebenarnya sudah terlalu lama tidak ada lagi. Oleh karena itulah, Rm. Mangun melalui Yayasan DED ingin menyumbang kepada nusa dan bangsa, dengan mengupayakan untuk memperbaikinya. Dan inilah yang menjadi inti perjuangan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar.
Rm. Mangun meyakini bahwa harusnya kelas merupakan sanggar kreatif dan bukan ruang steril yang pasif. Di sekolah ini bukan rangking tinggi maupun ijazah yang dikejar, melainkan justru kesetiakawanan sosial. Tidak ada murid yang bodoh dalam kredo Romo Mangun dan sekolah yang ia selenggarakan. Upaya yang dilakukan tidak hanya berfokus pada guru dan anak didik, namun juga secara intensif berdialog dengan orang tua-wali murid. Hal itu dilakukan guna memperoleh masukan dan persoalan yang dialami anak-anak dalam keluarga. Rm. Mangun sangat menyadari bahwa sekolah dimulai dari keluarga.
SD Mangunan kini tidak lagi didominasi oleh anak-anak miskin, maka semangat saling berbagi dan subsidi silang dikembangkan . Para pegiat pendidikan di sekolah ini terus berupaya mengembangkan konsepsi pendidikan kritis sang pendiri Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). Pengelola SD Eksperimen Mangunan, berusaha setia menghayati ‘pohon pendidikan’ yang digagas Rm. Mangun. Pelajaran Sejarah dan Geografi berada pada akar guna membentuk orientasi diri dan identitas. Sains, Matematika, dan Bahasa menempati posisi batang. Secara khusus Rm. Mangun membagi tahapan proses belajar mengajar yang menyesuaikan jenjang pra sekolah dan pendidikan dasar dalam mata pelajaran bahasa. Berbagai kesenian sebagai ungkapan jiwa berikut citra manusia menempati ranting dan dedaunan. Pohon pendidikan ini disinari rembulan budi etis Pancasila dan surya religiusitas.
Lima mata pelajaran khas SD Mangunan tetap dipertahankan. Pertama, ‘Komunikasi Iman’ yang bukan seperti pelajaran agama kebanyakan. Kedua, ‘Membaca Buku Bagus’.
Ketiga, ‘Membaca Meja’ berisi pelbagai informasi menyerupai majalah dinding yang kini dilaksanakan satu semester sekali. Keempat, melalui ‘Musik Pendidikan’ anak didik diajak menyadari bahwa dirinya sendiri ialah sumber dan pencipta musik. Anak didik mula-mula diarahkan untuk menghasilkan suara yang harmonis lengkap dengan ekspresi seperti bertepuk tangan, bersiul, maupun kreativitas lainnya. Melalui musik anak didik diajak mengenali dirinya sendiri hingga ia mantap bermusik. Kelima, ‘Kotak Pertanyaan’ merangsang anak menulis pertanyaan dan memasukkannya dalam sebuah kotak. Anak yang pandai bukanlah anak yang pintar menjawab namun yang pintar bertanya, demikian kepercayaan Rm. Mangun. Anak didik dilatih merumuskan pertanyaan sebagai tanda ia berpikir.
Rm. Mangun tidak menafikan bahwa hal yang terkait pengetahuan, informasi, persekolahan, hingga penyelenggaraan pendidikan merupakan perihal besar yang tak lepas dari percaturan politik. Namun di sisi lain Pengajaran dan pendidikan haruslah tetap mengabdi kepada anak-anak. Sejak tahun 1994, Y.B. Mangunwijaya mendapat izin dari Yayasan Kanisius dan restu dari Mendikbud, Prof. Dr. Wardiman Djajadiningrat untuk mengujicobakan gagasan pendidikan tersebut dengan menggunakan Sekolah Dasar Kanisius (SDK) Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta. Rm. Mangun mendampingi para guru dan terlibat langsung mengajar di SDK Mangunan. SDK Mangunan kemudian dikenal sebagai SD Eksperimental Mangunan.
Pada tahun 1995 atau 4 tahun sebelum Rm. Mangun wafat, Dewan Pengurus Yayasan DED dalam hal ini adalah Rm. Mangun Bersama Ibu Dra. Yetti Nuryawati mengambil Langkah strategis dengan membentuk kepengurusan Yayasan yang terdiri dari Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, serta Bidang Bengkel Laboratorium dan Urusan Properti. Pada tahun 2002, pengelolaan Yayasan DED diserahkan kepada Keuskupan Agung Semarang. Sejak tahun tersebut SDKE Mangunan kembali menerima murid baru – setelah beberapa saat tidak menerima murid karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan – dan proses pembelajaran berlangsung secara normal kembali.
Sepeninggal Rm. Mangun ini Pimpinan Yayasan silih berganti mulai dari Rm. Yohanes Puja Sumarto, Pr., Rm. Pius Riana Prabdi, dan Rm. CB. Mulyatno, Pr., dengan Direktur mulai dari Rm. Yohanes Sari Jatmika, Pr., Rm. Gregorius Kriswanto, Pr. kemudian Rm. Basilius Edy Wiyanto, Pr., dan Rm. Bernardus Singgih Guritno. Banyak peristiwa penting yang terjadi pada periode ini di antaranya pemindahan Lokasi SD dari kampung Mangunan ke tanah Kas Desa Kalitirto, pendirian TK Eksperimental Mangunan, dan juga pendirian SMP Eksperimental Mangunan. Yayasan DED juga mengalih kelola dua SD dan satu SMP, sehingga sekarang total ada 6 unit yang dikelola Yayasan DED. Ke enam unit tersebut adalah TK Eksperimental Mangunan, SD Eksperimental Mangunan, SD Eksperimental Mangunan Gowongan, SD Eksperimental Mangunan Kerten, SMP Eksperimental Mangunan, dan SMP Kebangsaan Bharata, Jumapolo. Saat ini Ketua Yayasan DED dijabat oleh Rm. Vincensius Bondan Prima Kumbara, dengan Direktur Yayasan DED dijabat oleh Rm. Albertus Hesta Hana Wijayanto, Pr.
Meski sudah banyak hal yang dilakukan dan dikembangkan, perjuangan belum selesai. Tantangan yang dihadapi juga tidak mudah. Namun semangat dari para penerus perjuangan Rm. Mangun di Yayasan DED harus terus dilanjutkan. Meski tantangannya tidak ringan. Rm. Mangun bukan pribadi yang suka pada kemapanan. Justru prinsip untuk terus bereksplorasi dan berpikir dan bertindak “nggiwar” selalu diberikan kesempatan untuk berkembang. Apa yang diwariskan oleh Rm. Mangun bukan hanya sekedar perlu dirawat, namun harus terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi yang dihadapi, utamanya dengan perkembangan teknologi yang seolah tidak terbendung dan dihentikan
Disarikan dari berbagai sumber oleh Augustinus W. Aji
Staff Bidang Diseminasi Yayasan DED Yogyakarta